Mengapa Kita Perlu Pemimpin yang Adil?
26 Juli 2013 20:18 Diperbarui: 24 Juni 2015 09:59 642 1 0
Pemimpin seharusnya orang yang dicintai rakyatnya memberi motivasi dan inspirasi
dan orang yang mempunyai visi ke depan
Kata-kata adil sepertinya sudah menjadi materi dari retorika politiksaja. Hanya sebagai bahan kampanye dan sekedar simbol politik. Pelaksanaannya jauh dari prinsip adil dan berkeadilan itu sendiri. Plato dikenal sebagai sumber inpirasi kejayaan peradaban barat. Plato dalam "the Republic"-nya pernah menanamkan tiga prinsip keadilan dalam pelaksanaan ketatanegaraan. Pertama adalah, pemimpin harus memiliki bekal pendidikan yang memadai. Kedua, masyarakat yang beradab harus berorganisasi, termasuk organisasi pemerintahan. Ketiga, keadilan tidak hanya dalam kerangka menjalankan pemerintahan yang baik tetapi untuk tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu untuk mencapai tingkat kebahagiaan.
Pada dasarnya prinsip keadilan diatas adalah bagian dari fitrah manusia, tidak perduli apakah manusia tersebut anggota dari peradaban Barat, peradaban Islam atau bentuk peradaban lain. Inilah pesan universal.
Bagaimana dengan prinsip keadilan dan kepemimpinan dalam Islam? Prinsip keadilan dan kepemimpinan dalam Islam berlandaskan pesan universal: "Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini adalah untuk membawa berkah bagi alam semesta. Rahmatan Lil ‘alamin." Kita sebagai muslim akan menjunjung misi ini untuk membawa keberkahaan bagi alam semesta. Pesan ini sangat universal, karena tidak ada satupun manusia di muka bumi ini ingin melihat kerusakan alam semesta, tidak perduli apakah dia muslim atau tidak, semua ingin melihat alam yang lestari.
Sebagai orang yang beriman kita percaya bahwa segala selalu bersumber dari Allah. Kepemimpinan juga bersumber dari Allah. Tentunya banyak yang menyangka kalau kepemimpinan yang dimaksud adalah untuk urusan agama, padahal prinsip kepemimpinan yang disabdakan Allah kepada manusia melalui Rasulullah SAW sifatnya universal mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada pertentangan antara kepentingan agama Islam dengan kehidupan umum.
Kepemimpinan telah disebutkan sejak sebelum proses penciptaan manusia. Sebagaimana Sabda Allah dalam Al Baqarah 30: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Disinilah kata "Khalifah" yang secara harfiah berarti successor atau wakil/penerus kekuasaan (Allah) menjadi sangat penting untuk dipahami. Dalam definisi yang lebih operasional, Khalifah berarti memerintah sesuai dengan Al-Quran dan teladan dari Rasulullah SAW. Dan bila dipelajari lebih teliti kata Khalifah tidak menganjurkan jabatan permanent, suksesi adalah bagian dari konsep Khalifah.
Konsep inilah yang justru dilupakan dan ditanggalkan oleh pemimpin yang mengaku muslim, karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mempertahankan yang sudah didapat. Sekali seorang menjadi pemimpin sudah tentu orang ini ingin menjadi pemimpin abadi atau paling tidak anak keturunannya yang menjadi pemimpin. Padahal sudah diperingatkan oleh Rasulullah S.A.W. bahwa tugas menjadi pemimpin harus dipertanggung jawabkan di hari akhir.
Seperti yang diriwayatkan oleh Abu' Huraira, Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa orang yang rakus kekuasaan akan menyesal di hari perhitungan nanti.
Tahun ini, 2013, masyarakat RIAU akan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin untuk masa lima tahun mendatang. Namun perlu diingat proses kepemimpinan tidak terpaku kepada hari pemungutan suara saja. Sebelum dan sesudah pemungutan suara adalah masa yang jauh lebih penting. Rakyat perlu bersatu-padu untuk memelihara atau menjadikan pemimpin yang adil dan menumpas pemimpin yang zalim.
Pemimpin yang Adil
Kepemimpinan lebih holistik dan lebih ampuh dalam memecahkan masalah suatu daerah. Misalnya kita mengingingkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, slogan yang berulang-ulang disebutkan oleh tokoh pemerintah maupun tokoh masyarakat. Tetapi banyak yang menyuarakannya tanpa makna, seperti suatu keharusan dalam isi pidato. Pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak bisa dicapai hanya dari tersedianya pemimpin yang bersih (tidak korupsi), tetapi masyarakatnya perlu bersih juga (tidak korupsi dan sekaligus anti korupsi), juga system pengambilan keputusan dalam penggunaan dana negara harus bersih dan jelas. Lingkungan untuk berdialog antar pemimpin dan yang dipimpin juga ada. Jadi pemerintahan yang bersih dan berwibawa dapat dicapai apabila tersedia kepemimpinan yang bersih dan berwibawa.
Kita tidak perlu mengelu-ngelukan pesta demokrasi, karena hal yang terpenting adalah bagaimana memilih pemimpin tanpa pertikaian yang tajam, bahkan sampai menumpahkan darah, dan bagaimana mengawasi bersama jalannya pemerintah, dan yang lebih penting lagi membantu jalannya pemerintahan.
Tugas kepemimpinan itu adalah tugas pemimpin dan yang dipimpin, tugas seluruh umat tergantung pada skalanya masing-masing. Seorang pemimpin tentu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dengan segala urusannya, apakah itu sektor, pembangunan daerah, politik luar negeri dan seterusnya. Pemimpin daerah mengurus daerah, pemimpin departmen menangani departemen di bawah wewenangnya, dan seterusnya sampai pada tingkat rumah tangga dimana kepala rumah tangga bertanggung jawab mengurus rumah tangganya, bahkan sampai kepada tiap individu yaitu tiap orang bertanggung jawab mengatur dirinya sendiri sehingga memberi manfaat tidak saja bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas.
Jadi pada dasarnya tiap individu dari sebuah bangsa mengemban amanat kepemimpinan. Untuk kita yang beriman seikhlasnya kepada Allah, tuntunannya sudah jelas seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran serta teladan dan ajaran dari Rasulullah SAW. Perhatikan Sabda Allah dalam Surat Saad: ayat 26 berikut ini: "Hai Daud, sesungguhnya Kami telah nobatkan kamu menjadi (pemimpin) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.
Dari firman Allah tersebut diatas kata Khalifah melekat dengan berlaku adil dan menahan diri dari hawa nafsu. Jadi kedua sifat ini sudah menjadi prasyarat khalifah atau pemimpin. Disiplin ilmu seperti organizational development dan institutional development membedakan antara leader dan ruler (administrator). Untuk orang awam kosa kata ini kelihatan sama saja. Sama-sama memerintah, sama-sama berkuasa, sama-sama punya pengikut dan umat dan banyak sekali kesamaannya.
Pemimpin seharusnya orang yang dicintai rakyatnya, orang yang memberi semangat, motivasi, dan inspirasi kepada yang dipimpin, dan orang yang mempunyai visi ke depan yang dapat dimengerti orang banyak dan bermanfaat bagi orang banyak. Sedangkan penguasa atau administrator adalah orang yang menjalankan roda pemerintahan karena faktor kewajiban saja, demi mencapai akses kepada kemakmuran pribadi yang lebih tinggi tingkatannya maka penguasa tersebut akan menjalankan kewajibannya sebagaimana yang lajim berlaku pada masa lalu.
Penguasa ini seringkali tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Kebiasaan menganiaya rakyat diteruskan tanpa menyadari perkembangan hebat dari internet. Penguasa ini berpikir bahwa perbuatannya menganiaya rakyat tidak ada yang mengetahui, padahal begitu ada peluang terbuka maka seseorang dapat saja merekam perbuatan penguasa tersebut, cukup dengan up loading ke You Tube, terbongkarlah segala perbuatan busuk penguasa tersebut. Belum lagi akan ditanya pertanggung jawabannya di akhirat oleh Allah SWT.
Alhasil Teknologi You Tube akan menjadi usang di akhirat nanti, karena tangan, kaki, dan seluruh anggota badan akan berbicara melaporkan perbuatan durjana dari penguasa tersebut kepada Allah. Belum lagi rakyat yang teraniaya, tentu akan mendapat kesempatan menjadi saksi atas perbuatan terkutuk penguasa tersebut. Menjadi khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini, bukanlah pekerjaan enteng. Menjalankan peranan khalifah sebagai administrator/ruler saja bukanlah hal yang mudah mengingat perannya paling tidak menjalankan tradisi yang sudah berlaku dan meningkatkan mutu kehidupan negara dan bangsa. Apalagi menjadi Khalifah dengan kualitas sebagai pemimpin yang membawa muslim sebagai rahmatan lil alamin. Manusia yang membawa berkah kepada alam semesta.
Dalil adil dan kemampuan menahan diri dari hawa nafsu adalah dalil mutlak. Sudah disabdakan oleh Allah jauh sebelum penciptaan Adam A.S., jauh sebelum pengusiran Iblis dari surga kerena pembangkangannya (Surat Al- Baqarah ayat 30 menceritakan dialog pertama sebelum kehadiran Adam A.S.). Dalil adil dan kemampuan mengontrol diri jauh lebih penting dari faktor keturunan, lebih penting dari hubungan darah. Entah kenapa dunia ini didominasi pemikiran bahwa faktor keturunan sangatlah penting dalam pewarisan kepemimpinan. Anak bekas presiden atau wakil presiden memenuhi persyaratan menjadi presiden atau ketua partai.
Banyak sekali perdebatan apakah faktor biologi (keturunan) lebih penting dari faktor lingkungan dalam pertumbuhan seorang manusia. Kedua faktor tersebut memang sangat penting, ada faktor pembawaan yang memang diwariskan dari anak ke orang tua, namun apabila lingkungan tidak kondusif, maka faktor bawaan itu tidak berkembang seperti yang diharapkan. Anak-anak Presiden atau Wakil Presiden walaupun pergi ke sekolah umum, tidak dikungkung di dalam pagar istana. Namun tetap dalam lingkaran steril, karena kemanapun mereka pergi selalu dikelilingi pengawal.
Hal tersebut tidak menjamin bahwa anak-anak tersebut akan mewarisi bakat kepemimpinan dari ayah mereka.
Banyak anak Presiden atau anak pejabat gagal menyelesaikan pendidikan S-1, kalaupun ada yang dapat selesai banyak sekali intervensi dari pengaruh orangtua. Kita menyaksikan betapa banyak anak-anak orang terpandang gagal menjalankan roda organisasi sosial atau gagal berbisnis, kalaupun kelihatan bisnisnya berhasil, sekali lagi faktor keberhasilannya adalah hasil intervensi pengaruh orangtua.









0 Komentar